header-int

Sebuah Feature dari Karyawan Pupuk Kaltim yang Gemar Menulis, Sunaryo Broto tentang Ahmad Fuadi

Kamis, 14 Nov 2019, 17:13:15 WIB - 50 View
Share

Sebuah Feature dari Karyawan Pupuk Kaltim yang Gemar Menulis, Sunaryo Broto tentang  Ahmad Fuadi

Dalam rangka HUT Pupuk Kaltim ke 42 dan Bulan Bahasa & Sastra bersama YPK menghadirkan novelis Negeri 5 Menara Ahmad Fuadi di Gedung Koperasi Bontang pada 13 November 2019. Hadir 400an siswa dan guru se-Bontang dalam acara Workshop Penulisan Sastra.

Ahmad Fuadi lahir di Bayur Maninjau, Sumatra Barat, 30 Desember 1973, seorang novelis, pekerja sosial, dan mantan wartawan. Novel pertamanya Negeri 5 Menara yang merupakan buku pertama dari trilogi novelnya. Novelnya masuk dalam jajaran best seller tahun 2009. Kemudian meraih Anugerah Pembaca Indonesia 2010 dan masuk nominasi Khatulistiwa Literary Award, sehingga PTS Litera, penerbit Malaysia tertarik menerbitkan di negaranya dalam versi bahasa melayu. Novel keduanya yang merupakan trilogi, Ranah 3 Warna terbit 23 Januari 2011 dan novel terakhir dari trilogi ini, Rantau 1 Muara, diluncurkan di Washington DC secara simbolis bulan Mei 2013. Fuadi mendirikan Komunitas Menara, sebuah yayasan sosial untuk membantu pendidikan masyarakat yang kurang mampu, khususnya untuk usia pra sekolah. Saat ini Komunitas Menara punya sebuah sekolah anak usia dini yang gratis di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan. Bukunya yang lain, Rahasia Penulis Hebat: Menciptakan Karakter Tokoh (2010), Dari Datuk ke Sakura Emas (2011), Berjalan Menembus Batas (Man Jadda Wajada Series, #1) (2012), Menjadi Guru Inspiratif (Man Jadda Wajada Series, #2) (2012), Beasiswa 5 Benua (2014), Berjuang di Tanah Rantau (Man Jadda Wajada Series, #3) (2013), Bertualang ke 5 Benua (2016), Anak Rantau (2017).

Memulai pendidikan menengah di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo dan lulus tahun 1992. Kemudian melanjutkan kuliah Hubungan Internasional di Universitas Padjadjaran, setelah lulus menjadi wartawan Tempo. Tahun 1998, mendapat beasiswa Fulbright untuk kuliah S2 di School of Media and Public Affairs, George Washington University. Merantau ke Washington DC bersama Yayi, istrinya -yang juga wartawan Tempo-  sambil kuliah, mereka menjadi koresponden Tempo dan wartawan VOA. Berita peristiwa 11 September 2001 dilaporkan mereka langsung dari Pentagon, White House dan Capitol Hill

Tahun 2004, Fuadi mendapatkan beasiswa Chevening di Royal Holloway, University of London untuk bidang film dokumenter. Penyuka fotografi ini pernah menjadi Direktur Komunikasi di sebuah NGO, The Nature Conservancy.

Menurut Fuadi, menulis dapat menerbangkan penulisnya ke segala penjuru dunia. Tulisan adalah karpet terbang. Fuadi sudah membuktikan dengan terbang ke 55 negara. Menulis adalah cara paling simple dan murah. Modalnya hanya pulpen dan kertas plus sebongkah hati. Menulis dengan rasa, data dan logika. Menulis dengan hati akan sampai ke hati. Menulis dengan otak seperti skripsi akan sampai otak saja. Tak ada dosen pembimbing skripsi sampai terharu atau menangis membaca skripsi.

Menulis adalah perjuangan pertarungan diri sendiri karena hanya kita sendiri yang menentukan. Tergantung dari niat kita. Makanya motivasi menulis harus kuat.

Tulisan lebih kuat dari peluru. Kalau peluru akan mematikan tetapi peluru tulisan bila mengena hati, akan menghidupkan minat membaca dan menulis. Kalau sudah menjadi tulisan biarkan orang lain yang menilai. Setiap tulisan ada pembacanya. Orang lain bisa mengapresiasi lebih dari yang anda bayangkan.

Menyadari bahwa setiap orang punya potensi menulis. Setiap orang bisa menulis cerita. Cerita yang ditulis bisa menjadi apa saja. Menulis bisa dimulai dari satu huruf, lalu merangkai kata dan jadi kalimat. Begitu terus dilakukan setiap hari. Kalau sudah terampil menulis dengan riset dan perencanaan yang matang untuk menjadi sebuah buku. Joko Pinurbo, salah satu penyair terbaik dari Yogya, menulis puisi pun memakai riset. Bertekatlah menulis minimal satu buku selama hidup.

Fuadi perlu waktu 2-4 tahun untuk menulis buku. Buku Anak Rantau perlu watu 4 tahun dan termasuk lama karena di tengah jalan ada perubahan orientasi. Sebelum menjadi tulisan buku perlu masukan dari teman-teman terdekat 10-20 orang terhadap draft buku.

Pada hari ke dua, tanggal 14 November diadakan Seminar Penulisan Sastra di GOR Pupuk Kaltim dengan narasumber  novelis Ahmad Fuadi. Hadir lebih kurang seribu lima ratus pengunjung yang terdiri dari siswa dan guru se Bontang serta karyawan Pupuk Kaltim dan Pika.

Fuadi membuka dengan presentasi beberapa kata kunci dan foto. Juga beberapa video dari potongan film Negeri 5 Menara. Pesannya, kuasai kunci ilmu yaitu bahasa. Sewaktu di Pondok Gontor Fuadi belajar bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Di Pondok Gontor ada 3.000 santri dalam asrama. Satu kamar dalam asrama ada 40 orang. Bisa dibayangkan bagaimana interaksinya. Alau mandi mesti antre. Di dekat kamar mandi diberi speaker yang menyiarkan siara radio-radio luar negeri seperti Voice of Amerika (VOA) supaya santri terbiasa mendengarkan suara bahasa Inggris yang harus dikuasai. Meski dalam keadaan mengantuk mereka harus mendengarkan siaran itu. Fuadi kecil sempat punya mimpi menjadi pengisi suara di radio VOA yang entah dimana dia tak tahu. Siapa sangka 10 tahun kemudian, Fuadi bisa siaran di radio itu di Amerika. Makanya jangan remehkan impian. Setinggi apapun karena Allah Maha Mendengar. Kalau punya kesungguhan akan didengar Allah. Man Jadda Wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Fuadi sudah membuktikan bisa pergi ke 55 negara dan 5 benua dan meraih 10 beasiswa ke luar negeri.

Menulis menjadi passion Fuadi. Awalnya melihat ibunya yang guru menulis di buku hitam yang berisi beberapa catatan kehidupannya. Fuadi menirunya waktu SMP. Menulis akan membuka segala pintu supaya berguna bagi orang lain. Seperti hadis Nabi Muhammad SAW, sebaik-baiknya manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Maka menulis harus kuat dalam melawan diri sendiri. Paling tidak ada empat langkah : niat harus kuat, perlu tahu apa yang ditulis, bagaimana menulisnya dan lakukan sekarang juga setiap hari.

Setiap tulisan bermula dari apa yang ada di hati dan pikiran. Setiap pengalaman itu berharga. Apapun pengalaman itu. Kalau ditulis menjadi abadi karena ada jejak digitalnya. Fuadi mempunyai pengalaman yang sangat berkesan yaitu ketika kuliah ayahnya meninggal dunia. Dia bingung siapa yang harus membiayai kuliahnya. Tapi dia tak boleh menyerah. Kalau kuliah terhenti maka akan terhenti pula cita-cita ayahnya. Makanya dia bekerja apa saja seperti jualan berbagai macam barang, mengajar, menulis supaya bisa membiayai kuliahnya. Fuadi awalnya merasa tak berbakat menulis tetapi dicoba terus dan tak henti belajar. Selebihnya, kekuatan doa. Allah akan mendengar doa kita.

Dan pemandu Abdul Hakim menutup acara dengan mengutip tulisan Fuadi. Singa akan pergi kemana-mana mencari mangsa. Kalau diam tak dapat mangsa. Juga anak panah akan berguna bila sudah melesat dari busurnya. Dan anda juga harus kemana-mana berusaha mencari sesuatu supaya berguna. Bila anda tak kemana-mana maka anda juga tak bisa apa-apa. (Sunaryo Broto, Bontang, 14 November 2019)

SMA Yayasan Pupuk Kaltim Bontang SMA Yayasan Pupuk Kaltim, sejak 1983 mengemban misi pendidikan bagi putra-putri karyawan PT. Pupuk Kaltim dan masyarakat Bontang dan sekitarnya, menerapkan sekolah serius untuk sebuah pembelajaran yang optimal, sehingga menjadikan sekolah ini Homebase-nya para juara dan menjadi The gateway to prominent universities dalam mengantar alumninya untuk studi lanjut.
© 2019 SMA Yayasan Pupuk Kaltim Bontang Follow SMA Yayasan Pupuk Kaltim Bontang : Facebook Twitter Linked Youtube