header-int

GELAR PENGAJIAN DI KOLONG JEMBATAN TAIPO - HONGKONG

Share
Posted : 30 Mei 2018
Nama Penulis:
H. Khumaini Rosadi, SQ, M.Pd.I )*
Isi Artikel:

Suasana Hongkong di bulan Ramadhan ini sangat panas sekali. Suhunya mencapai 35 derajat. Banyak para pekerja laki-laki di sini lebih memilih tidak berkaos daripada bajunya basah keringat. Bagi Buruh Migran Indonesia (BMI)  hari sabrtu dan minggu adalah hari libur mereka bekerja. Kesempatan libur ini banyak yang memanfaatkannya untuk berkumpul-kumpul di tempat yang kosong. Saya melihat hari ini di Victoria Park, seakan Hongkong ini sudah seperti Indonesia saja, karena banyak sekali perempuan-perempuan Indonesia, yang akrab sekali terlihat dengan jilbabnya berkumpul di taman ini. Jika sudah penuh ada yang memilih titik kumpul di bawah-bawah tangga yang kosong. Tangga yang bertuliskan tahun-tahun tempat tuan rumah dilaksanakannya olimpiade. Tinggal menggelar tikar, cukuplah untuk mereka sebagai sarana kumpul dan bertukar cerita.

Siang ini saya bertugas menyampaikan ceramah di Taipo. Ditemani oleh seorang Volunteer, perjalanan ke Taipo dari Causeway Bay membutuhkan kurang lebih satu jam. Menunggu bis di depan Victoria Park agak lama, baru tiba bis bernomor 370 yang akan menuju Taipo. Setiap menaiki bis atau transportasi umum di sini, harus memiliki kartu semacam E-toll yang ditempelkan ke alat pembaca beaya naik bis dan secara otomatis akan berkurang saldo kartu. Sepanjang perjalanan, pemandangan bukit-bukit yang indah, dan hamparan laut yang memukau membuat perjalanan semakin asyik. Gedung-gedung pencakar langit yang berjejer rapih membuat suasana Hongkong tambah indah. Apalagi kalau duduk di lantai dua bis, pemandangan semakin terlihat bagus. Jalanannya pun mulus, bersih, dan mengesankan.

Saat tiba di Taipo. Ternyata jamaah pengajian Majlis Taklim sudah siap dengan gelar tikarnya di bawah jembatan Taipo. Sambil berbaring-baring karena menunggu lama dari jam 14.00 waktu Hongkong, saya baru tiba jam 15.00 karena lama menunggu bis. Langsung dimulai acara pengajian dengan pembacaan al-Quran dilanjutkan dengan saritilawah, saya memulai ceramah dengan senandung shalawat. Teman  saya, yang juga seorang Dai Ambassador pada tahun 2017 lalu di Hongkong, ketika melihat postingan foto pengajian di kolong jembatan di Taipo, ia mengatakan sepertinya pernah ke sini yang dekat Terminal apa ya tadz? tanya teman saya, Muhandis az-zuhri – seorang  dosen di IAIN Pekalongan Jawa Tengah. Tampaknya memang beliau sangat terkesan sekali dengan model pengajian buruh migran Indonesia yang ada di Hongkong. Unik. Memang sangat mengesankan mengaji di bawah kolong jembatan.

Sementara ada juga teman saya yang mengatakan miris dan prihatin melihat postingan saya itu. Mungkin dia melihat dari sudut pandang yang berbeda, karena memang setiap isi kepala manusia pendapatnya pasti berbeda-beda. Beliau mengatakan apa enggak bising di bawah jembatan pengajiannya? Lho kok nggak di masjid atau di rumah atau di gedung-gedung nya yang menjulang tinggi sampai langit? Menyedihkan. Mengaji kok di kolong jembatan! gimana ceritanya nih? ini salah satu pendapat jamaah saya yang tidak perlu saya sebutkan namanya.

Inilah bukti, bahwa dalam segala sesuatu hal yang menurut kita sendiri itu baik, belum tentu menurut orang lain baik. Tentunya harus bijaksana dalam menyikapi segala perbedaan itu. Seperti orang buta yang mengatakan gajah itu lebar karena memegang kupingnya gajah. ada yang mengatakan gajah itu panjang karena memegang belalainya. Ada yang mengatakan gajah itu tajam karena memegang ujung gadingnya. Ada yang mengatakan gajah itu besar karena memegang perutnya. Ada yang mengatakan gajah itu keras karena memegang kakinya gajah. Ada juga yang mengatakan gajah itu berbulu karena memegang buntunya gajah.

Harus bisa shalawatan jika mau memberikan ceramah di hadapan ibu-ibu majelis taklim di Hongkong. Terutama majlis taklim al-Muhajiroh Taipo – Majelis taklim yang setiap hari sabtu berkumpul dan menggelar tikar di bawah kolong Jembatan Taipo. Ibu-ibunya pandai bermain rebana dan bersenandung shalawat. Saya pun di daulat untuk bersholawat. Untungnya saya Ustadz kekinian. Ustadz Gaul yang kata orang wajah saya mirip dengan Kim Jong Un. Hehe. Tawaran itu pun saya sambut dengan baik, dan melantunkan ya habibal qolbi yang sedang viral saat ini. Inilah  pentingnya metode dakwah. Berdakwah dengan santun, berdakwah menyesuaikan dengan mad’u nya. Sehingga dakwah yang disampaikan dapat diterima dan mudah untuk diamalkan.

Di sinilah letak uniknya pengajian di kolong jembatan di Hongkong, mengaji sambil hiburan. Sesekali orang lalu lalang mereka ada yang penasaran, bahkan ada yang sampai mendekati sambal mendengarkan, mendokumentasikannya dengan memotret, merekam video bahkan ikut menikmati sambal memberikan jempol goodnya. Bisa jadi, ini merupakan salah satu bentuk hidayah buat mereka. Amin.

Berbeda dengan di Macau, ungkap Rusmini – salah satu Volunteer Dompet Dhuafa Hongkong. Kalau  Macau pengajian biasanya digelar di malam hari, pagi sampai siang istirahat. Kalau di Hongkong pengajian digelar siang sampai sore hari. Dan kebanyakan umumnya pengajian itu dilakukan pada hari libur, yaitu sabtu dan minggu.

Jarak tempuh tempat pengajian kurang lebih sekitar 1 jam perjalanan bis bertingkat dua, antara causeway Bay ke Taipo, dan itu pun harus menunggu agak lama. Setiap jurusan ada nomornya, untuk jurusan causeway bay (dekat Victoria Park – salah satu destinasi tempat kumpul dan pengajian BMI) – Taipo bernomor 370.

Manfaat  pengajian di Hongkong, mereka bisa sambil liburan juga, sambil bertemu dengan teman-teman, cerita-cerita sesame buruh migran, mereka bisa menceritakan segala masalahnya, dan curhatnya ke teman-teman.

Kondisi ,masyarakat di Hongkong itu memang semuanya menggunakan transportasi umum, jarang mereka menggunakan transportasi pribadi karena mahal.  Belum untuk biaya parkirnya, biaya per km nya pun itu diperhatikan bahkan dihitung. Tidak sembarangan memakai jalan umum, semua ada beayanya. Makanya di sini jarang macet dan orangnya juga sehat-sehat karena banyak yang jalan kaki, lalu lalang menyeberangi jalanan.

)* Corps Dai Ambassador Dompet Dhuafa (CORDOFA), Tim Inti Dai Internasional dan Multimedia (TIDIM) LDNU, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STITSYAM) Bontang, Guru SMA YPK Bontang, Imam Besar Masjid Agung Al-Hijrah Kota Bontang, Penulis Buku: Fathul Khoir – Memahami Tajwid dengan 300 bait Syair, Perjalanan Dakwah di Eropa, Al-Ma’shumi – Metode mudah belajar Alquran, Pengantar Mata Kuliah Praktek Keterampilan Ibadah, Fiqih al-Hijrah – Kumpulan Tanya Jawab Fiqih di al-Hijrah.

File Pendukung:
SMA Yayasan Pupuk Kaltim Bontang SMA Yayasan Pupuk Kaltim, sejak 1983 mengemban misi pendidikan bagi putra-putri karyawan PT. Pupuk Kaltim dan masyarakat Bontang dan sekitarnya, menerapkan sekolah serius untuk sebuah pembelajaran yang optimal, sehingga menjadikan sekolah ini Homebase-nya para juara dan menjadi The gateway to prominent universities dalam mengantar alumninya untuk studi lanjut.
© 2018 SMA Yayasan Pupuk Kaltim Bontang Follow SMA Yayasan Pupuk Kaltim Bontang : Facebook Twitter Linked Youtube